Memberi dan Menginspirasi

Rabu, 22 Agustus 2018

Tips Mengumpulkan Uang Kurban


Hari ini bertepatan dengan Idul Adha, salah satu hari raya yang begitu diagungkan oleh Umat islam karena merupakan puncaknya ibadah haji. Bagi yang belum mampu untuk berhaji, kita dianjurkan untuk berkurban. Kurban merupakan ibadah sunah yang sangat dianjurkan oleh Nabi, banyak sekali keutamaan ibadah kurban, namun bukan kapasitas saya untuk membahas di sini. Walau demikian ibadah sunah ini memang berat sekali untuk dilaksanakan, maka dari itu Allah sangat menyukai ibadah kurban ini, dan mencintai orang yang mau berqurban. Karena pada dasarnya manusia itu pelit. 
banyak orang yang mampu berkurban, tapi  merasa berat untuk melaksanakannya. Mengapa? Karena uang yang kita keluarkan tidak sedikit, saat ini saja harga Kambing sekitar 3 juta, begitu juga kalau kita mau kurban sapi. Tapi jika kita tahu keutamaan orang yang berkurban, pasti mereka bersegera melaksanakan ibadah sunah ini.  
Alhamdulillah tahun ini saya bisa berkurban, setelah beberapa tahun hanya azam tanpa diiringi action. Tahun depan harus Qurban, itu tekad saya. Pas idul Adha tiba,  uangnya nggak ada. Berazam lagi “tahun depan harus kurban,” eh uangnya malah ke pake, dan saya merasa tidak berdosa, karena merasa itu sunah, dan hanya bagi yang mampu. Memang niat saja tidak cukup, menetapkan resolusi setiap tahun saja tidak cukup, perlu action, perlu disiplin untuk mengumpulkan uang. 

Saya azamkan tahun ini harus kurban, dimulai dengan menyiapkan 3 celengan.  Satu  celengan untuk kurban, satu celengan untuk sedekah/ infak dan  yang satu lagi untuk sosial.  Celengan   kurban  dan infak setiap hari saya isi,  sebelum berangkat kerja, saya isi dengan uang 5000 atau 10.000, tergantung adanya uang di dompet.  Sedangkan yang untuk sosial saya isi setelah saya terima gaji, isinya terkadang 50.000, atau 100.000 celengan ini saya gunakan jika ada orang yang mau pinjam uang, (dan kadang orang yang pinjam tidak kembali uangnya) agar saya tidak pusing dan tidak mengganggu keuangan keluarga saya buat celengan sendiri, kalau orang itu bayar saya langsung menyimpannya lagi di celengan social untuk orang yang membutuhkan lagi. Celengan social juga saya gunakan untuk kegiatan-kegiatan sumbangan yang diluar infak dan sedekah.  Kalau celengan social kosong, walaupun ada orang yang mau pinjam uang saya nggak kasih. Karena menurut saya hutang itu bisa membuat persaudaraan renggang. Yang punya hutang dan yang memberi hutang sama-sama dibuat resah. Percaya nggak kalau hutang itu membuat resah. Kalau kita mampu lebih baik kita kasih saja, semampu kita.  Sekali lagi saya berusaha untuk tidak memberi hutang, kalau memang orang itu sangat buuth uang, saya ambil dari celengan social, dan saya tidak pernah berpikir untuk dikembalikan, itu membuat saya lebih tenang, tapi kalau dikembalikan saya terima untuk menolong yang lain.
Seumpama ada honor diluar gaji, contoh honor rapat atau perjalanan dinas saya isi untuk infak dan sedekah 2,5%, celengan kurban juga saya isi besarnya 20.000-50000 tergantung uang yang saya peroleh. Sedangkan untuk celengan sosial saya  isi juga tapi saya tidak menentukan jumlahnya.  Kuncinya adalah konsisten dan disiplin, jangan dibuka sebelum waktunya.
Walau pun cara ini sangat jadul dan kuno tapi efektif dari pada simpan di bank. Mudah-mudahan tahun depan saya juga bisa menambah celengan buat umroh. 
 Harapan saya artikel ini bisa bermanfaat bagi yang kesulitan untuk mengumpulkan uang kurban. Selamat Idul Adha.
0

0 comments:

Posting Komentar

Silahkan berikan komentar, saran dan kritik dengan bahasa yang sopan, jangan spam ya!