Memberi dan Menginspirasi

Minggu, 20 November 2016

Sejarah di Balik Megahnya mesjid Tertua di Kalimantan


Rasanya tidak lengkap jika pergi ke suatu tempat tidak singgah ke mesjid. Ya mesjid menjadi tempat singgah yang paling nyess, tambah seger tatkala air wudhu membasahi muka. Nikmat Tuhan yang manakah yang kamu dustakan? Sebenarnya sepanjang jalan banyak mesjid yang kami lewati di Banjarmasin. Tapi sang supir yang baik hati menawarkan untuk sholat di mesjid tertua yang ada di Kalimantan. Tentu saja aku senang, selain bisa sholat magrib dan istirahat bisa sambil mempelajari sejarah. Sambil menyelam minum air, ini adalah kesempatan untuk mencari bahan tulisan. Dasar blogger, semua bisa jadi ide tulisan hi...hi..
Sebelum adzan magrib, kami bisa leluasa berkeliling mesjid, selvi dan futu-futu sambil nyari informasi mengenai mesjid ini. Ternyata mesjid ini memiliki kisah sejarah yang sayang untuk dibuang. Berikut adalah keunikan dari mesjid ini
Mesjid Sultan Suriansyah dibangun pada tahun 1526 masehi, usia pada tahun 2016 ini genap 490 tahun, terletak di Kelurahan Kuin Utara kecamatan Banjarmasin Utara letaknya bersebarangan dengan Sungai Kuin. Di sungai Kuin inilah terdapat pasar terapung yang terkenal sampai mancanegara.


Pada saat itu Pangeran Samudera atau Sultan Suriansyah sebagai raja Banjar pertama yang sedang berkuasa. Sejarahnya diawali dari perang saudara. Antara Pangeran Samudera dengan pamannya, Pangeran Samudera memeluk agama hindu pada saat itu. Dalam hikayat Banjar diceritakan Pangeran Samudera sangat disukai oleh kakeknya Maharaja Sukarama yang berkuasa di Kerajaan Negara Daha. Dan karena kesantunan pangeran Samudera ia diwariskan tahta kerajaan yang membuat iri pamannya yang merupakan anak pertama dari sang raja. Sang paman memang sudah lama mengincar posisi itu.
Peperangan tidak bisa dihindari lagi, Pangeran Samudera meminta bantuan kepada Sultan Demak. Dan Sultan Demak menyetujui dengan syarat pangeran Samudera dan pengikutnya akan masuk islam baik menang mau pun kalah.
Itulah sejarah islam masuk ke kalimantan Selatan, karena saat itu tidak mesjid yang bisa menampung jemaah, maka dibangunlah mesjid Sultan Suriansyah ini.
Keunikan lainnya yang saya temui mengenai bangunan fisik mesjid ini, seluruh arsitektur mesjid terbuat dari kayu ulin, orang biasa menyebut dengan kayu besi. Masih asli walaupun sudah mengalami pemugaran tapi tidak ada yang diganti sejak awal. Kayu ulinnya terawat dan nampak masih kokoh. Sarat dengan budaya Banjar, arsitekturnya menggunakan bangunan berundak bertingkat empat. Pada bagian atap penuh ukiran khas Banjar. Walaupun begitu masjid ini masih ada pengaruh dari mesjid Demak Jawa Tengah.
Mesjid ini berukuran 26,1 x 22,6 m, bagian atapnya berbentuk sungkul dari kayu ulin, sungkul ini masih bagus dan saat ini menjadi situs bersejarah yang disimpan di Museum lambung Mangkurat Banjar Baru.
Bagi pengguna speedboat, longboat atau bus air bisa melihat bangunan ini karena memang letaknya dipinggir sungai Kuin. Tak jauh dari mesjid juga terdapat makam Sultan Suriansyah, sehingga para wisatawan yang datang bisa langsung berziarah ke makam ini.
Masjid ini cukup ramai, saya perhatikan penduduk di sana begitu memakmurkan mesjid, anak-anak banyak yang belajar ngaji dan saat waktu shalat warga sekitar berdatangan menuju mesjid. Alhamdulilah saya melihat pemandangan seperti ini sangat bersyukur karena mesjid masih ramai, saya masih bernapas lega, karena saya miris jika melihat mesjid megah tapi sepi.


4

4 komentar:

  1. ah moga pas kapan2 mudik rmh mertua bisa ke masjid itu TFS

    BalasHapus
  2. Walaupun mesjid tertua, tapi keliatan terawat banget ya mak.. Arsitektur dalamnya juga bagus ya.. Apa mungkin udah pernah dipugar juga ya mak, dan direnov ulang?

    BalasHapus
    Balasan
    1. menurut penjaganya pernah dipugar, namun bahan baku kayu ulin masih asli sejak berdiri belum diganti. dan ini satu keunikannya kayunya tidak lapuk bahkan semakin mengkilap dan kokoh. trims sudah mampir ya mbak

      Hapus

Silahkan berikan komentar, saran dan kritik dengan bahasa yang sopan, jangan spam ya!