Memberi dan Menginspirasi

Jumat, 15 Maret 2013

Membentuk Karakter Anak Melalui Mendongeng



Sejak dulu dongeng sangat dinanti dan diminati oleh anak-anak usia sekolah Dasar maupun usia dini. Karena dunia anak adalah dunia bermain dan dunia bercerita (mendongeng). Belajar dilakukan dengan atau sambil bermain. Melalui bermain anak akan dapat memuaskan tuntutan dan kebutuhan perkembangan dimensi motorik dengan melakukan koordinasi otot kasar, kognitif, kreativitas, bahasa, emosi, social nilai dan sikap hidup. Sedangkan melalui dongeng anak akan memuaskan rasa keingintahhuan, sikap ingin meniru dan ingin mencoba melakukan sesuatu.
Tidak ada anak yang tidak senang mendengarkan dongeng. Entah itu dongeng yang dibacakan atau dongeng yang sudah melekat di benak orang tua. Apalagi dengan cara penyampaian dan improvisasi yang membuat anak tidak merasa digurui atau diperintah. Pesan moral melalui dongeng tidak disampaikan secara gamblang, dogmatis sehingga anak tidak jenuh.
Mendongeng (storytelling) memiliki banyak manfaat. Misalnya, mengembangkan daya pikir dan imajinasi anak, mengembangkan kemampuan bebicara anak, mengembangkan daya sosialisasi anak dan yang terutama adalah sarana komunikasi anak dengan oangtuanya, atau antara pendidik dengan peserta didiknya.
Dongeng sebagai media efektif menyampaikan pelajaran (PR, 22/9). Disamping sangat digemari anak, melalui dongeng para pendidik bisa menyuguhkan berbagai nasihat, petuah, tauladan atau  hikmah melalui sosok tokoh cerita. Apalagi jjika tekhnik mendongeng pendidik dilengkapi dengan bebagai alat peraga, anak-anak  terangsang untuk terus mengikuti alur cerita hingga tuntas. Kelebihan metode dongeng yang lain, dongeng melatih anak untuk peka dan mengasah daya ingat mereka.
 Bagi anak usia dini, perkembangan bahasanya sangat pesat, mendengarkan dongeng bisa menjadi stimulant yang sangat bermanfaat bagi perkembangan kemampuannya berbahasa. Kemampuan berbahasa sejak usia dini memang tidak bisa dianggap sepele. Sebab melalui berbahasalah anak mulai mengasah nalarnya dengan belajar mengungkapkan pikiran dan emosinya.
Dongeng yang bisa disampaikan bagi anak usia dini dibagi kedalam berbagai jenis ( Andi Yudha : 2007 ), diantaranya :
1.      Dongeng tradisional adalah dongeng yang berkaitan dengan certia rakyat dan bisanya turun temurun.
2.       Dongen futuristic (modern) disebut juga dongeng fantasi. Dongeng ini biasanya bercerita tentang sesuatu yangfantastik, missal tokohnya tiba-tiba menghilang.
3.      Dongeng pendidikan adalah dongeng yang diciptakan dengan suatu misi pendidikan bagi dunia anak-anak.
4.      Fable adalah dongeng tentang kehidupan binateng yang digambarkan bisa bicara seperti manusia
5.      Dongeng sejarah biasanya terkait dengan suatu peristiwa sejarah. Dongeng ini banyak yang bertemakan kepahlawanan.
6.      Dongeng terapi adalah dongeng yang diperuntukkan bagi anak-anak korban bencana atau anak yang sakit.
Jenis-jenis dongeng diatas tentu saja bisa disajikan dan dikonsumsi bagi anak usia dini apabila+ pendidik mampu memilah dan memilih tema dan isi dongeng yang dikemas secara menarik pada kondisi dan waktu yang tepat sesuai dengan karakteristik usia, kebutuhan dan minat anak didik.
Sedangkan aspek yang perlu dikembangkan melalui cerita dongeng ini adalah aspek : bermain, berdisiplin, rajin, berhatilembut, pemaaf, rendah hati, sabar, tekun menghargai orang lain dan lain sebagainya yang tentunya bisa dipahami oleh anak usia dini.
Selain sebagai metode penyampaian pelajaran mendongeng juga sangat efektif jika dilakukan sebelum tidur oleh para orang tua dirumah. Disaat anak mengantuk dan mendengarkan pepatah yang baik maka akan masuk ke bawah alam sadar. Sehingga anak akan mengingatnya terus, dan mau melakukannya. Ini sangat efektif untuk mengubah karakter anak yang kurang baik. Metode ini lebih popular disebut dengan parenting. Anak yang biasanya sulit makan atau cengeng, selalu diberi dongeng dan dibisikan ke bawah alam sadarnya, maka anak itu lambat laun akan berubah, tidak cengeng dan mau makan dengan lahap.
Mudah-mudahan melalui mendongeng ini, bisa membentuk generasi Indonesia yang memiliki karakter. Ini merupakan tugas kita para guru, khususnya guru bahasa untuk mengimplementasikan dan menerapkan empat pilar mata pelajaran bahasa Inodnesia yaitu mendengarkan, berbicara, membaca dan menulis.  
Yati Nurhayati
1

1 komentar:

  1. Komentar ini telah dihapus oleh administrator blog.

    BalasHapus

Silahkan berikan komentar, saran dan kritik dengan bahasa yang sopan, jangan spam ya!